Menikmati Keindahan Dan Suguhan Alun-Alun Kota Bekasi Malam Hari

Kliknusantara.com | Kota Bekasi – Biasanya jika saya berkunjung ke tempat teman di kawasan Mustika, Kota Bekasi, tiba di Stasiun Bekasi langsung buka pintu kendaraan yang dipesan melalui aplikasi online. Tak ada tengok-tengok kiri atau kanan. Fokus aja ke tujuan dan biasanya.mata langsung terpejam dan dibangunkan sopir sesampai di titik tujuan.

Untuk kesekian kalinya berada di Kota Bekasi, rasa penasaran saya tentang kota ini mulai terusik. Kebetulan agenda pertemuan dengan beberapa kolega di Kota Bekasi sedikit bergeser waktu dan lokasinya. Setelah kantak-kontakan, sepakat bertemu di Masjid Al Barkah untuk tentukan titik pertemuan baru.

“Bergerak aja ke arah Polresta Bekasi Kota mas, nanti saya sharelok (kirim alamat via WhatsApp). Gak jauh kok, lurus aja,” ujar teman saya diujung sambungan selulernya.

Setelah paham lokasinya, saya pun segera mengayun kaki menuju titik dimaksud. Dikarenakan saya sudah lebih dulu sholat Magrib di kompleks Stasiun, saya menunggu di halaman Masjid. Namun di depan kompleks Masjid Al-Barkah itu terdapat taman dan area yang nampak ramai dan lampu kerlap-kerlip.

Menyaksikan pemandangan itu, saya mulai menyadari sedang berada di Pusat Kota Bekasi. Setalah berusaha mendekat dan mulai mengamati sekeliling, nampak jelas bahwa saya berada di Alun-alun Kota Bekasi.

Pada semua sisi Alun-alun dipenuhi lapak gerobak jualan kuliner yang tertata rapi. Didekatnya tergelar tikar lesehan untuk menikmati suguhan kuliner yang beraneka ragam. Tersedia makanan dan minuman sesuai selera yang diinginkan.

Di tengah Alun-alun yang luas itu, para pengunjung yang membawa anak-anak mereka tampak asik bermain. Mereka memanfaatkan fasilitas mainan anak yang tersedia. Pengunjung tinggal menyewanya. Ada pula yang membiarkan anak mereka bermain bebas sementara orang tuanya menikmati hidangan minum dan penganan khas Alun-alun.

Saya pun berinteraksi dengan sejumlah pengunjung dan pedagang di lokasi itu. Nampak gemerlap namun tertata dan nyaman untuk duduk bersantai menikmati wedhangan panas maupun dingin yang tersedia.

Para pedagang dan pengunjung saling bersapa dengan ramah. Terkadang diselingi candaan menambah keasyikan ditempat itu. Mereka agak enak diajak ngobrol dan terbuka menjawab beberapa pertanyaan saya yang sedikit ‘investigatif’.

Sambil menunggu kawan, saya pun inisiatif duduk di angkringan yang tepat di sisi kanan tribun Alun-alun. Ya, angkringan, sekalian nostalgia masa kuliah di Jogja. Kebetulan pemiliknya orang Pacitan dan paham seluk beluk angkringan.

Tersedia nasi ‘kucing’, sate telur puyuh, amplah, usus, ceket, gorengan dan pecel. Minuman dingin dan hangat tersedia lengkap ala angkringan.

Rekan-rekan pun akhirnya sepakat untuk meetingnya dirubah jadi model diskusi sambil duduk lesehan di tengah keramaian pengunjung yang lumayan ramai malam itu.

Tak terasa kami habiskan waktu hingga menunjukkan jam 01.30 dini hari. Suasana seperti belum larut sebab sebagian besar lapak masih buka dan pengunjung masih ramai oleh kalangan muda-mudi. Pengamen pun silih berganti dan setia datang menghibur.

Dari penuturan Arif, pedagang Angkringan, tak ada batasan waktu yang pasti di malam hari. Pihaknya tutup setelah jualannya habis. Biasanya sampai jam 03.00 dini hari.

“Gak ada batasan sih, sehabisnya aja, kadang sampai jam 3. Dimana habisnya, yang penting jam 6 pagi itu semua sudah beres dan bersih,” tutur Arif.

Penuturan Arif itu dibenarkan Eko, salah seorang juru parkir di Alun-alun itu. Bahkan menurutnya terkadang sampai jelang subuh.

Ketika ditanya apakah setiap malam suasana keramaian seperti malam itu, Eko mengatakan di malam biasa tetap ramai pengunjung.

“Setiap malam begini, lumayan ramai. Namun lebih lagi kalau malam Minggu. Sampai berjubel,” ungkap Eko yang sementara sibuk mengatur parkiran.

Terkait suasana Pandemi Virus Corona, Juru parkir yang mengaku sudah cukup lama menggeluti pekerjaannya itu mengatakan sempat terpengaruh. Namun tidak lama kembali seperti biasa.

Amatan di lokasi itu, pemandangan nampak tak ada masalah a Covid-19. Pengunjung dan penjual berinteraksi seperti biasa. Sesama pengunjung pun bercerita secara bebas. Kalau pun ada masker, dipasang sekedarnya aja menggantung di leher.

Kamipun menyudahi diskusi setelah mendapatkan beberapa kesimpulan. Kami bubaran. Beberapa teman segera bergegas pulang. Namun saya menerima tawaran teman untuk tidak pulang dan menginap. Saya akhirnya melanjutkan menghabiskan malam di Kota Industri itu ….(Mrf).

35b24349cfd79c2fca67650b87d971df

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Bawahan Bermasalah Dengan Wartawan, Kepala Keuangan Kabupaten Musi Rawas Minta Maaf

Tue Aug 4 , 2020
Kliknusantara.Com | Musi Rawas – Sejumlah Jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Mura Bersatu (AWMB), menggelar unjuk rasa di Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Musi Rawas (Mura), Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel), sekitar pukul 10.00 WIB, Selasa (4/8/2020). Dalam orasinya, Miswanto mengatakan, AWMB mengecam keras terkait adanya […]