Pimpinan Umum

Sosok, Maruf Asli Bhakti: Jalan Panjang Berliku Dalam Rimba Politik Hingga Pentas Nasional

$rows[judul] Keterangan Gambar : Maruf Asli Bakti

SOSOK, Kliknusantara.com - Ma’ruf Asli Bhakti, dikenal di kalangan aktivis HMI (MPO) dan PII serta aktivis Pergerakan Mahasiswa 98 di Yogyakarta. Ia menyelesaikan studi sarjananya Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2003. 


Awal masuk di bangku kuliah bersamaan awal resesi ekonomi yang melanda Indonesia. Krisis moneter pada akhir 96 dan 97 membuatnya lebih banyak di luar kampus. Ia bergabung dengan sejumlah mahasiswa menyuarakan tuntutan reformasi. Gerakan anti KKN Rezim penguasa Suharto berhasil menumbangkan Penguasa Orde Baru itu dari kursi kepresidenan.


Sikap dan pemikirannya tak ada yang berubah sedari mahasiswa hingga saat ini. Sosok ini terus kritis terhadap realitas sosial dimana  masyarakat kecil yang selalu dilemahkan dan termarjinalkan. 



Bahkan selesai menamatkan pendidikan Sarjananya di Kota Pelajar Yogyakarta, ia kembali ke kampung halamannya di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Ia bergabung dan berinteraksi dengan anak-anak muda desa, petani, nelayan. Sambil memberikan pendampingan, pembinaan sekaligus mengadvokasi warga yang dinilainya butuh pembelaan.


Kehadirannya di desa mengamati dari dekat merasakan kehidupan nyata para petani. Pada kesimpulannya, petani sulit berkembang karena distribusi kebutuhan pokok petani dari hulu hingga hilir terjerat sistem ijon dan rente yang mengerak. Para rentenir mengendalikan kebutuhan dasar petani mulai dari benih, pupuk bahkan biaya operasional. Begitu juga saat panen, petani tak lagi memegang kendali pada proses panen. Semua dikendalikan para lintah darat.


Pada pokoknya dari mulai membajak sawah hingga selesai timbang hasil panen, sistem kerja tengkulak begitu keras mencekik, Alih-alih lunas hutang, petani memiliki saldo sekalipun dibuatkan cara agar tetap berhutang. Petani dibuat bekerja sepanjang tahun untuk para tengkulak meski mereka menggarap sawah atau lahan sendiri.


Sebuah sistem yang hanya dapat kita baca dalam sejarah penjajahan Belanda, namun begitu nyata di kehidupan petani kita hingga saat ini. Anehnya para tengkulak tak bekerja sendiri pun tak menikmati sendiri. Support sistem pemerintahan di daerah juga menyuburkan serta menggemukkan para tengkulak. 



Oknum instansi pemerintahan yang mestinya direct menangani dengan petani tanpa perantara justru terjebak dengan permainan para lintah darat. Kebijakan pupuk bersubsidi misalnya, akan lebih mudah didapatkan dari gudang-gudang para tengkulak dari pada dari distributor resmi pemerintah. 


Demikian pula  Alsintan (Peralatan Mesin Pertanian) akan lebih mudah terdistribusi kepada kelompok-kelompok tani yang memiliki relasi dengan para rentenir modern itu. Akan lebih hebat lagi jika rentenir itu memiliki kedekatan politik dengan penguasa politik di daerah.


Sistem kelola pertanian demikian menurutnya dipastikan membenamkan petani menjadi sapi perah para rentenir dan mitra kekuasaan yang dipegangnya. Semua itu menjadi catatan penting bagi Ma'ruf  saat menyertai para petani komoditi Padi, Jagung, Kakao, Kelapa, Cengkeh bahkan Cabai. 


Dalam pandangannya, berinteraksi dengan para petani, peternak, nelayan, bahkan masyarakat lokal pedalaman mengolah rotan, penambang galian C, Penambang emas ilegal, adalah kuliah lanjutan yang nyata.


Langkah itu diambilnya sebagai upaya menghilangkan sindrom menara gading yang mengungkung para sarjana. Menurutnya para akademisi kampus hanya berpuas diri membicarakan petani dari literasi satu ke literasi lainnya memiliki pengalaman empirik. Makanya selalu gagal membaca realitas sosial, utamanya masyarakat kecil. Secara teoritik sangat terstruktur dan sistematis, namun saat dihadapkan dengan realitas justru tak sinkron.




Kenyang dengan pengalaman interaksi sosial hingga politik dan ekonomi di daerahnya, serta merasa tanggung jawab sosial keluarga sudah tuntas baginya Ayah dari Aziza, Akbar dan Alif ini kembali merantau meninggalkan kampung halaman. 


Terhitung sejak November 2019, Ma'ruf  hijrah ke Jakarta. Ia memboyong istri dan anaknya menjajal Ibu Kota. Secara singkat ketika ditanya mengapa Jakarta? Dijawabnya sederhana, biar adil, dekat ke Sulawesi dimana asal usul dan orang tuanya dan dekat ke Sumatra (Palembang) kampung halaman Sang istri.


Seiring waktu dan Pandemi Covid-19 melanda, Jakarta memiliki warna yang berbeda baginya. Jakarta terasa lebih segar udaranya tak sumpek dengan polusi seperti yang ia rasakan sebelum-sebelumnya. Tak terasa ia kembali aktif di dunia gerakan setelah bertemu dengan kawan-kawan lamanya semasa ber-HMI. Oleh rekan-rekan sesama aktivis pergerakan mahasiswa 98, ia didaulat menjadi Koordinator Nasional Liga Eksponen 98. 


Meski mengaku sempat canggung, apalagi levelnya nasional, namun atas interaksinya dengan rekan-rekannya sesama mantan aktivis, serta dorongan kawan dekatnya sesama Alumni HMI (MPO), membuatnya bisa percaya diri dan berani kembali tampil di dunia gerakan. 


Bahkan lebih jauh dari itu, rekan-rekannya memediasi interaksi dengan aktivis Pro Demokrasi seperti PRD dan sejumlah pimpinan Aktivis Buruh nasional yang kemudian berkolaborasi dalam berbagai isu, termasuk perlunya pendirian partai alternatif. 


Diskursus itu pun berlanjut hingga muncul ajakan berkolaborasi membangun Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA). Di partai yang dikomandani Agus Jabo Priyono (Ketua Umum PRD) ini, Ma'ruf di dapuk sebagai Wakil Ketua Umum.


Riwayat Kehidupan Masa Kecil

 

Pemilik nama lengkap Hikma M. Asli Bhkati ini, putra dari pasangan Moh. Asli Bhakti dan Siara Hasan. Dilahirkan pada 12 Februari 1976 di Desa Ogowele Kecamatan Dondo, sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah. .

 

Sejak lahir, Putra Ke-5 dari 13 bersaudara ini hidup dalam lingkungan keluarga yang kental dengan ajaran ke-Islaman. Tumbuh besar hingga usia 15 tahun dalam tempaan Sang Ibu dan Sang Ayah yang juga tokoh pergerakan Islam di Tolitoli, Sulawesi Tengah.


Ia melalui masa kecilnya bersama orang tua dan saudara-sadarinya di desa kelahiran. Pendidikan sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) diselesaikan disana. 




Sosoknya sebagai anak desa, berkembang dan tumbuh dengan lingkungan penuh kesederhanaan dan bersahaja. Kepedulian pada sesama dan peduli lingkungan, serta semangat beragama, lahir dari tempaan orang tuanya secara langsung. 


Dalam hal prinsip terkait kepentingan keumatan, rakyat kecil dan kebangsaan, Ma’ruf dikenal memiliki watak yang keras. Untuk hal yang dianggapnya benar, ia tedas dan tak kenal kompromi. 


Nampaknya hal itu tak lepas dari warisan sikap keras sang ayah yang juga pimpinan DI/TII yang meliputi Sulawesi Tengah hingga Gorontalo. Menilik garis kekeluargaan, kedua orang tuanya masih merupakan kerabat dekat Pimpinan DI/ TII Sulawesi, Abdul Qohhar Muzakkar.


Riwayat Kehidupan Aktivis

 

Sejak masih duduk di bangku SD dan SMP, Ma'ruf mulai mengenal banyak orang dengan berbagai latar. Itu karena orang tuanya sering kedatangan tamu dari luar yang notabene adalah orang - orang pergerakan. 


Masa itu, kediaman orang tuanya berada di sebuah Lembah kaki gunung Cempedak di Desa Ogowele. Di sini sang ayah sering kedatangan tamu dari kalangan tokoh-tokoh Islam. Ada yang sekedar silaturahmi, bernostalgia dan berdiskusi. 


Sepanjang ingatannya, sempat juga datang sejumlah mantan-mantan anggota Mujahidin di berbagai belahan dunia dimana terjadi konflik yang melibatkan unsur keagamaan seperti Moro Filipina, Afghanistan dan Checnia. 


Mereka datang untuk bersilaturahmi. Ada yang menetap beberapa waktu berdiskusi berbagi pengalaman dan informasi perkembangan keumatan di negara-negara yang dilanda konflik berdarah. "Bapak saya tak lepas pagi dan sore dari berita radio mengikuti perkembangan konflik di Timur Tengah dan lainnya," kenang Ma'ruf.


Pada saat yang sama, Ma'ruf semasa kecil berinteraksi dengan para calon mahasiswa LIPIA kala itu datang tinggal untuk memperlancar hafalan dan memperdalam ilmu keagamaan serta pengetahuan lainnya sebelum berangkat menuntut ilmu ke Jakarta dan lanjut ke Arab. 


Beberapa tamu-tamu khusus Almarhum orang tuanya menjadi mentor dan pengajarnya. dan kegiatan itu berlangsung di kediaman mereka. Para calon mahasiswa itu datang rombongan, kadang juga bergantian.


Semua proses perjalanan semasa kecil itu membekas dalam perjalanan selanjutnya. Dari pengakuannya, semua itu  mengantarnya lebih jauh mengenal dunia pergerakan. 


Setamat dari SMP Ma'ruf melanjutkan pendidikan di STM Negeri Palu di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Semasa di STM inilah ia mulai bergabung di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).


PII sendiri kala itu dicap organisasi under ground, karena menolak  pemberlakuan Asas Tunggal karya rezim Orde Baru. Dalam organisasi bentukan Anton Timur Djaelani dan Yusdi Ghozali itu, Ma’ruf mulai bersentuhan dan belajar mengenai manajemen organisasi. Ia menyelesaikan Leadership Basic Training (LBT) dan Mentra (Mental Training) serta Latihan Brigade PII.


Mulai juga mengenal buku-buku bacaan Sejarah Perjuangan Umat Islam, Sejarah Peradaban dan pemikiran tokoh-tokoh islam nasional seperti HOS Cokroaminoto, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, M. Natsir, Soekarno, Agus Salim, A. Hassan. Demikian pula Tokoh Pemikir Dunia Islam seperti Sayyid Qutb, Hasan Al Banna, Murtadha Muthahhari, Khomeini, Ali Syariati, Al Ghazali dan lain sebagainya. 


 

Nekat Merantau Ke Tanah Jawa, Yogyakarta


Usai mengikuti EBTANAS, jelang kelulusan STM Negeri Palu, Ma’ruf mendapat pemberitahuan bebas tes di Politeknik Unhas Makassar. Menyusul kemudian pemberitahuan bebas tes di  FPTK IKIP Negeri Yogyakarta. 


Tak pikir panjang, ia memilih melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Fasilitas bebas tes sebagai Siswa Berprestasi, Ma'ruf masuk jalur Penjaringan Bibit Unggul Daerah (PBUD). Hanya saja ganjalan yang muncul terkait pembiayaan pendidikan yang lebih besar sementara tinggal mengandalkan ibu setelah Ayahandanya wafat sejak ia menginjak kelas Dua STM.


Ia merasa tak tega meninggalkan Ibundanya dan berjuang membiayai pendidikannya. Namun setelah sholat minta petunjuk, Ma'ruf menguatkan tekad dan sedikit agak nekat. Dirinya tetap memutuskan lanjut ke Yogyakarta asal mendapat restu dari Ibundanya. "Kapan lagi ada peluang bisa menginjakkan kaki di Tanah Jawa," ujar Ma'ruf mengenang kisahnya tersebut.




Di Kota Pelajar Yogyakarta, sambil mengenyam pendidikan, Ma’ruf masih ingin aktif di PII yang ada di Yogyakarta (Wilayah Jogja Besar). Sayangnya niat itu tak bersambut.  Transisi sikap penerimaan Asas Tunggal oleh PB PII biang masalah. PII Sulawesi Tengah oleh Ketua Umum Hakam Naja dianggap pembangkang karena menolak sikap mereka yang mulai menerima Asas Tunggal walau mereka sebut sebagai strategi kulit bawang.


Aktivis HMI dan Senat Mahasiswa


Tak ada ruang di PII Jogja, membelokkannya ke HMI MPO atas saran salah seorang seniornya asal Sulawesi Tengah yang lebih dulu aktif di organisasi bentukan Lafran Pane itu. Kesempatanya lebih luas mengenal dan terlibat di dunia aktivis dan pergerakan. Situasinya tak jauh berbeda HMI MPO merupakan organisasi penentang keras Asas Tunggal. 


Usai Latihan Kader (LK) I, langsung mengikuti LK II beberapa bulan kemudian, Lulus LK II, Ma'ruf mendapat kepercayaan memimpin HMI Korkom (Koordinator Komisariat) IKIP pada tahun 1997. Selanjutnya mengikuti Senior Course (Kursus Pengader). Ma'ruf kemudian menjadi Ketua HMI Cabang Yogyakarta dan sekaligus menuntaskan pelatihan tingkat advance (LK III) pada Tahun 2001.


Memimpin Senat Mahasiswa (KM/MPM) IKIP/UNY 

   

Berkenaan Krisis Moneter yang melanda tahun 1997, Ma’ruf terlibat aktif dalam berbagai pertemuan mahasiswa. Bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi. Ia sering turun bergabung lintas elemen gerakan. Termasuk berkolaborasi dengan kekuatan 'Kiri' yang membuatnya diskorsing oleh Pimpinan HMI Cabang Yogyakarta. Ia tak pernah ambil peduli. menurutnya saat itu yang lebih penting adalah andil menyuarakan perlawanan membela rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi akibat resesi.


Walau tak mendapat restu dari Pimpinan Cabang, Ma'ruf terus saja membawa 'bendera' Korkomnya dalam berbagai pertemuan lintas elemen mahasiswa hingga terjadinya Gerakan Sejuta Massa pada Tanggal 20 Mei 1998 di Yogyakarta menuntut Suharto mundur dari jabatan Presiden. 


Sepak terjangnya sebagai aktivis pergerakan dikenal luas oleh kalangan mahasiswa di kampusnya saat itu. Pergaulannya yang lues serta tak membeda-bedakan orang membuatnya mudah diterima orang. Walhasil dalam perhelatan Kongres Mahasiswa IKIP Negeri Yogyakarta, ia terpilih Menjadi Ketua Umum Keluarga Mahasiswa / Majelis Permusyawaratan MAhasiswa (KM / MPM) IKIP Yogyakarta.


Selesai Studi dan Kembali Ke Kampung Halaman

 

Usai Studi dan mendapat gelar Sarjana, Ma’ruf kembali ke daerah kelahirannya di Kabupaten Tolitoli. Jiwa aktivisnya masih melekat hingga sulit menjauh dari kehidupan mahasiswa. Karena itu ketika kembali ke Tolitoli ia bergabung di beberapa Perguruan Tinggi sebagai tenaga pengajar. Antara lain Universitas Madako Tolitoli, Kampus Jauh Unismuh dan IAIN Datokarama Tolitoli. 


Selain aktif mengajar di Kampus, sebagai anak desa, kesehariannya diisi dengan kegiatan pertanian. Kadang-kadang pula ia bergabung dengan para nelayan di beberapa perkampungan pesisir. 


Interaksinya dengan para petani dan para nelayan membuatnya memahami pergulatan hidup mereka sehari-hari. Baik petani maupun nelayan mayoritas hidup dalam keterbatasan.


Setelah memahami kesulitan petani dan nelayan, Ma'ruf berkesimpulan bahwa persoalan itu hanya bisa diatasi jika kebijakan pemerintah berpihak pada petani dan nelayan. Artinya ada keberpihakan politik. Masyarakat mestilah memiliki kesadaran atas hak politik yang berpihak pada mereka.


Terjun Ke Dunia Politik


Dari perbincangan dengan para petani itu, muncul desakan agar dirinya masuk ke ranah politik. Sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya untuk masuk dalam politik praktis. Atas dorongan banyak pihak akhirnya memutuskan bergabung di salah satu partai. Mencari Partai yang bisa membawa aspirasi petani dan nelayan itu ternyata juga tidak mudah. 


Pimpinan sejumlah partai cenderung resisten dan tidak memberinya ruang untuk bergabung. Hingga suatu kesempatan datang ia diajak bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN). Persoalannya PAN saat itu mengalami konflik internal kepengurusan. Karena tak ada pilihan bergabunglah dalam kepengurusan dan terang saja langsung terseret dalam konflik. 




Keteguhan dan sikap optimis membuatnya bertahan dan pantang  mundur hingga akhirnya peluang dan kesempatan menghampirinya. Setelah kubunya memenangkan pertarungan internal, Ma'ruf kemudian didaulat menjadi Ketua DPD PAN Tolitoli. 


Sebagai Politisi Baru, Ma'ruf dihadapkan pada keterbatasan sumber daya finansial. Sudah menjadi persepsi setiap orang bahwa pimpinan partai itu mestilah orang kaya.


Namun itu tak menjadi beban pikirannya. Ia konsisten pada gagasan awalnya bahwa sejatinya pemilik partai itu adalah rakyat. Keyakinannya itu menjadi modal utama menggerakkan partai. Support dari masyarakat membuat dirinya penuh semangat memimpin partai. Giat penggalangan terus berlanjut. Termasuk menggalang beberapa tokoh lokal yang berpengaruh. 


Alhasil, Sebagai Ketua, Ma’ruf bisa menaikkan elektabilitas PAN di Tolitoli secara signifikan. Berhasil memperoleh 1 kursi di DPRD yang sebelumnya tidak ada. Perolehan suara yang selama beberapa kali Pemilu hanya kisaran 2000 suara meningkat  menjadi 6.500 suara. Membuktikan bahwa dukungan riil rakyat sesungguhnya adalah yang utama.

 

Kerasnya perhelatan suksesi kepemimpinan PAN Pusat, jagoannya, Hatta Rajas gagal kembali duduk sebagai Ketua Umum PAN menyebabkan Koordinator Nasional Eksponen 98 ini terpental. Ia pun mengambil sikap non aktif dari PAN pada 2016. Pada 2019 silam, ia menyatakan keluar permanen dari partai berlambang matahari bersinar itu.


Gagasan Partai Baru

 

Usai non aktif dan keuar dari PAN, Ma'ruf berusaha menghindari dunia politik. Ia hijrah ke Jakarta semata-mata ingin membangun usaha kecil-kecilan untuk keluarga kecilnya. Dibantu beberapa kawan dekatnya di Jakarta ia membuat usaha kecil di bidang kuliner.


Meski usaha kecilnya mulai berjalan, ia tak kuasa menolak desakan kawan-kawannya untuk kembali ke jalur politik. Adalah Azwar, Gus Atiq, Syahrul, Heri dan beberapa lainnya berusaha meyakinkannya. Meski berulang kali ditolak, akhirnya luluh juga.  


Awalnya didorong memimpin perkumpulan mantan aktivis pergerakan 98 yang dikenal dengan Liega Eksponen 98 (LEx 98). Berawal dari sini terjadi pertemuan dengan berbagai elemen aktivis pergerakan lintas generasi bahkan lintas ideologi. 


Difasilitasi Presidium Simpul Indonesia (Azwar, Nurul Atiq Tajudin, Syahrul Dasopang dan Adib Amrullah) lahir momentum pertemuan dengan petinggi Partai Rakyat Demokratik (PRD), Bung Agus Jabo, Lukman, Bin Firman, Alif Kamal, Aji Susmana. Dari mereka lahir ajakan berkolaborasi membangun partai alternatif. Dan inilah momentum awal ia kembali berpartai dalam Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA).

 

Bergabung di PRIMA yang merupakan kolaborasi lintas pemikiran. Itu bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Prosesnya melalui beberapa kali diskusi menyamakan pikiran, visi dan misi kepartaian. 


Beberapa kali pertemuan itu, melahirkan kesepakatan terkait platform partai: kerakyatan, kebangsaan dan keumatan. Termasuk didalamnya perbincangan pemikiran Sosialisme Islam. Sebuah gagasan partai yang memiliki akar kesejarahan dengan gagasan awal keindonesiaan.


Gagasan Islam dan Sosialisme bagi Ma'ruf sangat kental dalam gagasan HOS Cokroaminoto yang diturunkan kepada murid-muridnya, Soekarno, SM Kartosuwiryo, KH. Agus Salim, Tan Malaka, Semaun, Mualimin. Muso, dan lainnya yang kelak semua menjadi tokoh pendiri bangsa. "Dari sini jelas terlihat bahwa HOS Cokroaminoto bukan hanya melahirkan gagasan melainkan juga melahirkan kader penerus yang kelak mewujudkan gagasannya tentang Keindonesiaan dan  Kebhinekaan serta Lima Dasar Negara dalam Pembukaan UUD 1945 yang kemudian dikenal dengan Pancasila.


"Pemikiran inilah yang mendasari diskusi panjang dengan teman-teman petinggi PRD dalam mengusung partai alternatif bernama PRIMA. Maksudnya sangat jelas, untuk melakukan reset ulang Keindonesiaan yang telah jauh terjebak dalam ideologi liberalisme kapitalistik. Kita harus kembali kepada gagasan awal Bangsa Indonesia dicetuskan melalui ajaran HOS Cokroaminoto pada murid-muridnya," jelas Ma'ruf terkait alasannya memperkuat Partai Rakyat Adil Makmur bersama aktivis-aktivis PRD.


Kehidupan Keluarga


Terkait keluarga, Ma'ruf mempersunting Gadis Palembang yang juga kader HMI (Mantan Ketua KOHATI Cabang Bogor) bernama Saraswati. Dari wanita berdarah Melayu ini Ma'ruf dikaruniai Tiga orang Anak. Seorang putri (sulung) bernama Aziza Rahma Putri Wijaya Asli. dan dua orang putra, masing-masing Andi Fathan Akbar Wijaya Asli dan Andi Arya Rajasa. Ketiganya telah akrab dengan lingkungan perantauan di Sumatera, Sulawesi dan Jawa.


Anak pertama dan kedua sedang menempuh pendidikan SLTA dan SLTP di Palembang smentara yang ketiga ikut bersamanya di Jakarta.........[]. 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)