SETIAP AGUSTUS TIBA

Oleh:
Tatan Daniel

Setiap kali Agustusan saya selalu teringat lelaki ini
Lelaki kerempeng dengan
puisi kumal di saku celananya
Makhluk ‘perburuan’ yang
mengembara, berganti-ganti nama
dan hilang ditelan masa
Lelaki cadel, yang tak bisa
melafalkan huruf “r”
yang rambutnya lusuh,
awut-awutan,
yang sebelah matanya terluka
karena popor senjata.

Setiap kali menaikkan helai bendera
di bulan Agustus yang gersang
selalu saya ingin menghentikannya
di tengah tiang. Tanda berkabung
tak berkesudahan.
Mengheningkan cipta
untuk lelaki yang berhenti sekolah
lantaran harus bekerja
menjadi tukang pelitur
agar adik-adiknya
bisa tetap belajar di kelasnya
Lelaki yang menggelandang
mendirikan teater, dan mengamen puisi
di pasar, di bawah tenda kaki lima
di lapangan kampung
di sudut-sudut jalan
di kontrakan para buruh:

“Apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
O.., Tidak, Dik!
Kita akan terus melawan
waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan
Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat
Apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
O.., Tidak, Dik!
Kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia..” (*)

Setiap kali melintas di jalan raya
menonton pawai yang riang gembira
selalu saya ingin memeriksa
semua kenderaan:
truk, angkot,
andong
gerobak sayur
bis antar kota
gerbong kereta api
Adakah lelaki yang diburu itu
meringkuk dengan
bibir pasi bergetar
bersembunyi di sana.
Diantara karung goni,
bungkusan
keranjang ayam
jerami
sapi potong
dan koper-koper lusuh
Lelaki penyaru yang
menyelinap di keramaian
dengan penutup kepala terbenam.

Setiap kali melintas
di taman pekuburan pahlawan
di bulan Agustus yang kering
saya selalu ingin membaca nama-nama
yang terpahat di semua nisan
Mencari nama lelaki yang bagai
tekukur bersarang
di sunyi alang-alang ini
Lelaki yang bersahabat
dengan kata-kata
yang ditulisnya di dalam kepala
Lelaki gelisah yang setelah
tigapuluh lima tahun
Tuhan meniupkan nyawa
ke dalam jasadnya
hilang dikerkah huru-hara
tak tentu rimba
tak tentu rumah
tak tentu ranjang tidurnya.

Setiap kali mengingat
namanya, Wiji Thukul,
biji yang bertumbuh
selalu saya ingin menyemainya
di halaman rumah saya
di lapangan bola
di gerbang pabrik
di ruang sidang parlemen
di pojok istana Presiden
di sawah-sawah
di pekarangan masjid, gereja,
dan tangsi tentara.
Di buku pelajaran anak sekolah
di cangkir-cangkir kopi
di bangku taman
di grup wa keluarga
di gigi taring anjing kurap yang kelaparan
di papan iklan dan maklumat pengadilan
di semua sperma para lelaki
di rahim semua perempuan
Menyaksikannya tumbuh
menjadi pohon,
sebatang pohon raksasa
rindang berbunga
dan lebat buahnya
Pohon puisi, dengan kata-kata
yang tenteram bersarang di sana
Jutaan sarang
Jutaan kata yang
kawin-mawin, beranak-pinak
dan setiap Agustus tiba
serentak berseru: “Lawan!”

Agustus 2017
(*) Kutipan dari puisi Wiji Thukul “Puisi untuk Adik”,
yang ia tulis di Solo, tertanggal 25 Mei 1987)

35b24349cfd79c2fca67650b87d971df

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Tolitoli Bekali WBP Asimilasi Bercocok Tanam

Wed Aug 12 , 2020
Kliknusantara.Com | TOLITOLI-SULTENG – Lembaga Pemasyarakatan Lapas Kelas IIB Tolitoli memberikan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan(WBP) dalam bentuk bercocok tanam dan lainnya. Langkah itu sekaligus bentuk dukungan terhadap program pemerintah kaitannya dengan ketahanan pangan. Kepala Lapas Kelas II B Tolitoli, Gamal Bardi, SH., BCIp., mengatakan ketahanan pangan merupakan salah satu bagian […]