Responsif, Menyusul Antusias Petani, Kades Kongkomos Segera Programkan Bantuan Bibit Kakao Melalui DD

Drs. Moh. Nur, Kepala Desa Kongkomos Kecamatan Basidondo, Tolitoli, Sulawesi Tengah

Kliknusantara.com [Kongkomos-Tolitoli] – Semangat petani kakao di desanya, mulai antusias melakukan penanaman dan perawatan kembali tanaman kakaonya. 

Antusias warga Kongkomos nampak terlihat setelah sekian lama mereka tinggalkan dan menelantarkan kebun kakao yang didera berbagai penyakit dan hama.

Semangat warga itu membuat Kades Kongkomos, Drs. Moh. Nur terdorong untuk menyiapkan program bantuan kepada petani di desanya. 

Menurut Kades Kongkomos, Drs. Moh. Nur, bentuk bantuan yg direncanakan itu adalah berupa bantuan bibit kakao sambung pucuk. Bibit varietas khusus tersebut saat ini sedang diminati para petani di desanya. 

Dikatakan Moh. Nur,  sejak para petani di desanya menemukan teknik jitu mudah dan relatif murah mengatasi hama penyakit kakao, sejak itu pula minat masyarakat petani di desanya kembali muncul. 

Dengan munculnya semangat para petani tersebut, menurut kades, perlu segera disambut dan disupport agar tetap tumbuh dan berkelanjutan. Apa lagi mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat ini makin memperihatinkan.

Sejak runtuhnya kejayaan kakao dihantam hama penyakit. Penghasilan warganya tak menentu. Bahkan ada yang terpaksa merantau keluar daerah. 

Padahal di masa jayanya, warga Kongkomos sempat meningkat perekonomiannya. Petani tak segan membeli kebutuhan tergolong mewah saat itu. Bahkan kendaraan sepeda motor keluaran terbaru milik petani tak sulit dijumpai di Desa Kongkomos.

Terkait program bantuan bibit kakao tersebut, diungkapkan M. Nur kepada media ini, rencananya akan diusulkan lewat anggaran Dana Desa (DD) Tahun 2021. 

Lokasi Pembibitan Kakao Sambung Pucuk

Bentuk kegiatannya berupa usaha pembibitan, bukan pengadaan atau pembelian bibit sehingga tdk bertentangan dengan Peraturan Menteri Desa dan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDT) tentang prioritas penggunaan Dana Desa. 

Kagiatan pembibitan ini, kata kades, selain dapat mudahkan para petani memperoleh bibit dan secara gratis, juga nantinya dalam proses pembibitan akan membutuhkan tenaga kerja. Mulai dari proses pembersihan tempat pembibitan, pengisin kantongan (polibek), penyambungan sampai dengan perawatan bibit. 

“Proses itu akan melibatkan warga madyarakat sebagai tenaga kerja. Hal itu sejalan dengan konsep pemberdayaan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri PDT yang dikenal dengan sistem padat karya tunai,” urai Kades Kongkomos.

Lebih jauh Kades menjelaskan, bahwa bibit yang akan disiapkan nanti adalah bibit sambung pucuk yg sudah dikenal luas oleh para petani.  Terdiri dari dua jenis, yaitu 4-5 dan 2-6. 

Saat ini, kata kades, kedua jenis bibit tersebut yg sedang diminati dan dikembangkan oleh para petani di desanya, bahkan mereka telah membuktikan hasilnya yang cukup memuaskan. 

Berdasarkan keterangan sejumlah petani, bahwa bibit sambung pucuk kakao ini, selain produksinya capat juga kerjanya mudah dibanding tanaman keras lainnya seperti cengkeh. 

Jenis Kakao hasil sambung pucuk yang dikembangkan petani Kongkomos

Dijelaskan, kakao sambung pucuk ini jija benar-benar dirawat dengan baik dalam jangka waktu 1 tahun sudah ada yang bisa dipanen.

Selain itu, biji tanaman ini juga besar, jauh lebih besar dari biji kakao biasa. Menurut para petani, timbangan jg berat.

Kalau kakao biasa, untuk mencapai 1 kg kering, harus membutuhkan buah kakao sekitar 30 sampai 40. Jauh beda kalau buah sambung pucuk, dalam 1 kg kering, hanya membutuhkan 16 sampai 20 buah. 

“Mudah-mudahan rencana bisa terwujud sehingga kondisi ekonomi masyarakat bisa kembali pulih seperti masa kejayaan kakao beberapa tahun silam,” ujar M. Mur penuh harap… (Abi).

35b24349cfd79c2fca67650b87d971df

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mantan Jampidsus Disebut Terima Rp. 7 M Untuk Hentikan Kasus Hibah Koni 2017, Begini Respon Jaksa Agung

Thu May 21 , 2020
Dr. H. ST. Burhanuddin, Jaksa Agung RI Kliknusantara.com [Jakarta] – Mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Tugarisman disebut menerima suap sebesar 7 Miliar Rupiah dalam upaya penghentian penanganan kasus korupsi antuan KONI tahun 2017 yang melibatkan mantan Menpora, Imam Nachrowi.    Hal itu terungkap dalam kesaksian asisten pribadi […]