Presedium IPW Neta S Pane: Waspadai Kelompok Radikal, Terorisme Akan Kembali Menebar Teror di Berbagai Tempat

Neta S Pane Ketua IPW

Kliknusantara.com | JAKARTA – Kasus tewasnya empat warga Lembah Tongoa Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah semakin menunjukkan bahwa kelompok radikal dan garis keras keagamaan yang bersekutu dgn terorisme masih bercokol kuat di Indonesia.

Sekecil apapun celah, mereka gunakan untuk membuat teror yg menakutkan masyarakat. Untuk itu Polri perlu bekerja cepat menangkap dan membongkar jaringannya.

Sebab apa yng mereka lakukan di Sigi seperti sebuah sinyal bahwa kelompok radikal terorisme itu akan kembali menebar teror di berbagai tempat.

Untuk itu Presedium IPW Neta S Pane dalam siaran persnya Minggu (29/11/2020) meminta jajaran kepolisian, terutama jajaran intelijen, Baintelkam, Densus 88, dan BNPT perlu mewaspadai akan munculnya aksi terorisme di Indonesia menjelang akhir tahun ini.

“Dengan maraknya aksi kerumunan massa dan meluasnya gerakan intoleransi akhir akhir ini telah membuat kalangan radikal dan jaringan terorisme seakan mendapat angin untuk kembali beraksi secara masif” kata Neta Minggu (29/11/2020)

Menurut Neta, dari pendataan Ind Police Watch (IPW), simpatisan ormas yang sering melakukan kerumunan massa pernah ada yang terlibat dalam aksi terorisme. Di tahun 2017 jumlah mereka yang ditangkap Polri mencapai 37 orang dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dll.

“Beberapa di antaranya sempat ditahan di Nusa Kambangan, Gunung Sindur Bogor dan LP lainnya. Namun kini mereka sudah bebas dan tidak terlacak keberadaannya. Keterlibatan mereka dalam aksi terorisme mulai dari menyembunyikan buronan terorisme hingga melakukan aksi teror itu sendiri” ujar Neta

Di khawatirkan kata Presedium IPW dengan meluasnya aksi aksi kerumunan massa dan gerakan intoleransi belakangan ini membuat mereka kembali bermanuver dan melakukan aksi teror. Saat ini jumlah narapidana terorisme yang tersebar di sejumlah lembaga pemasyarakat lebih dari 500 orang. Napi terorisme yang sudah bebas dan selesai menjalani hukuman dibina pemerintah melalui program deradikalisasi. Namun para mantan napi yang tidak terlacak keberadaannya memang perlu diwaspadai agar tidak bermanuver untuk melakukan aksi teror kembali.

Dikatakan Kabaintelkam Polri perlu bekerja ekstra keras mencermati hal ini agar jajaran kepolisian tidak kecolongan. Sebab dalam kerumunan massa akhir akhir ini, terutama menjelang kedatangan Rizieq, Baintelkam Polri seperti kecolongan karena tidak membuat pemetaan konferhensif bahwa seperti apa antisipasi yg perlu dilakukan Polri.

“Aksi aksi kerumunan massa seperti terbiarkan dan tidak terantisipasi oleh Baintelkam, sehingga tidak hanya melanggar protokol kesehatan tapi aksi kerumunan massa itu sempat mengganggu jadwal penerbangan di bandara Soetta dan kemacetan para di berbagai tempat.

Menjelang akhir tahun ini Baintelkam Polri perlu memetakan situasi dan kondisi yang ada sehingga situasi Kamtibmas benar benar terkendali” kata Neta. …..(EL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Walikota Bogor Tak Beretika, MER-C Sesalkan Intervensi Atas Tim Medis Habib Rizieq Di Rumah Sakit

Sun Nov 29 , 2020
Kliknusantara.com | JAKARTA – Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad menyesalkan tindakan Walikota Bogor mengintervensi tim medis yang menangani Habib Rizieq Sihab. Langkah Walikota, Bima Arya disebutnya sebagai tindakan tak beretika dan melanggar privasi dan hak pasien. Hal itu tertuang dalam siaran pers MER-C yang dikeluarkan Ketua presidumnya, dr. Sarbini. […]