Corona, Rakyat Telah Menguburnya Di Jalanan, Namun Ruang Kerja Pemerintah Masih Penuh Sesak Olehnya

Kliknusantara.Com [Sorot Redaksi] – Kegemparan dan kepanikan awal mula kehadiran mahluk asing bernama Corona di tanah Tiongkok, Wuhan, terjadi pula di seluru penjuru dunia tak lama berselang.

Kejadian okeh virus yang belakangan diidentifikasi dan disematkan lambang Covid-19 padanyanl itu, terekspose melalui media sosial lewat potongan vidio pendek. Narasi kengerian terbangun dari penyajian vidio maupun gambar yang memperlihatkan suasana orang terpapar secara massal dan segera menghadapi sekarat.

Entah apa maksud dari pesan-pesan singkat dalam sajian itu. Yang pasti respon kengerian itu lantas melahirkan pernyataan telah terjadi pandemi oleh lembaga otoritas kesehatan dunia, WHO.

Sebuah pernyataan tentang kondisi ekstra ordinary. Menyusul kemudian standar dan ketentuan penagannya yang di kenal dengan istilah ‘protokol kesehatan’.

Pemerintah Indonesia dinilai lamban merespon apa yang telah menjadi sikap lembaga kesehatan sejagad itu. Setelah diprovokasi statemen Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, barulah Presiden Jokowi bergeming dengan mengumumkan adanya kasus terkonfirmasi positif dari Dua orang wanita di Depok Jawa Barat.

Saat itu nampak kegamangan pemerintah menyikapi hal tersebut. Anis selaku Gubernur, rajin nongol di layar televisi dengan narasi yang sebangun dengan WHO.

Sebaliknya, Menteri Kesehatan, Terawan nampak santai dan tak terlalu panik. Jenderal militer yang jadi Menkes RI itu justru dinilai meremehkan situasi. Berbagai pernyataan kontroversial terlontar dari pernyataan sang Menteri. Antara lain soal masker dan obat penangkal virus yang berbuntut ‘disingkirkannya’ dari layar publik.

“Masker diperuntukkan bagi yang sakit,” katanya kala itu.

Sekian bulan berlalu, berbagai situasi diperhadapkan ke publik untuk menjelaskan keganasan virus yang katanya sangat mematikan itu. Bak drama kolosal, ada beberapa kepala daerah sampai pasang badan tegak di hadapan pemerintah pusat mengambil langkah dengan dalih keselamatan warganya

Bahkan mengambil langkah ekstrim menutup rapat pintu masuk dan keluar wilayahnya. Mencegah orang luar masuk ke wilayahnya karena khawatir mereka jadi pembawa virus. Kendati rakyatnya sendiri mesti menderita di portal perbatasan masuk daerahnya.

Belakangan nampak terlihat bahwa kebijakan ekstrim beberapa kepeala daerah itu lebih pada sikap paranoid akibat narasi keganasan Covid-19,

Begitu massif terbangun ketakutan akibat virus yang digambarkan sangat nematikan itiu. Walau fakta juga memperlihatkan bahwa banyak yaang sembuh dan lolos dari virus itu.

Berbagai upaya dilakukan untuk memaksa warga tidak keluar rumah. Menghindari keramaian dan kerumunan. Fasilitas umum di tutup. Tempat keramaian seperti lokasi wisata bahkan rumah ibadah digembok

Presiden pun akhirnya merubah UU Kesehatan yang mengatur kekarantinaan menjadi Perppu PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sebelumnya Kapolri telah mengeluarkan maklumat melarang kegiatan yang mengumpulian banyak orang.

Atas hal itu, pemerintah lantas mengeluarkan kebijakan jaring pengaman sosial. Mengatur kembali kebijakan APBN, APBD bahkan hingga APBDes. Kebijakan refocusing anggaran.

Sekian lama kebijakan itu berjalan penuh sorotan. Banyak pihak mengeluhkan tak terjangkau bantuan itu meski mereka benar-benar terdampak. Soal pendataan ujung pangkalnya.

Langkah penanganan sosial dampak kebijakan penanggulangan pandemi Covid-19 itu sepertinya sarat kepentingan. Nampak vulgar pemanfaatan situasi sebagai m8dus mengeruk keuangan negara secara berjenjang.

Penyediaan sembako untuk warga terdampak justru memunculkan perbincangan tak sedap. Bahkan bukan hanya di soal sembako Pelibatan kroni pengusa, tim sukses, para bohir politik berkesempatan ambil untung. Mulai dari bahan paket sembako hingga masker, Rapid Test dan APD.

Pada akhirnya, kegelisahan warga tak bisa terbendung, pilihan.mereka, bertahan di rumah dengan resiko kelaparan atau harus nekat keluar rumah mencari kebutuhan keluarga mereka yang tak terjangkau bantuan 450 Triliun itu.

Beberapa momentum mereka masih bisa bertahan akibat kebijakan yang memaksa dengan pengerahan aparat kepolisian dan militer. Antara lain seperti larangan mudik dan bepergian. Meski faktanya karangan itu juga tak efektif.

Usai lebaran Idul Fitri 1441 H, pergerakan kembali tak terbendung. Himbauan pemerintah, Gubernur, Bupati dan Walikota seperti tak berarti. Warga mulai meramaikan jalanan dan tempat-tempat aktifitas ekonomi.

Merespon hal itu, pemerintahan Jokowi lantas mewacanakan New Normal. Sebuah tatanan kehidupan baru yang dianggap normal terkait keberadaan Covid-19. New Normal itu akhirnya diterapkan

Kini keadaan di jalanan mulai ramai, warga kembali memenuhi ruas jalanan, memenuhi fasilitas umum pergi dan pulang. Beraktifitas seperti biasa.

Jalanan ibu Kota DKI Jakarta sendiri normal kembali dengan kemacetannya. Kesibukan nampak dengan kepadatan lalulintas di semua rias jalanan, pusat perbelanjaan dan lainnya. Seolah warga telah menguburkan Covid-19 itu di jalanan.

Di tengah warga tak lagi menghiraukan keganasan virus yang konon sangat mematikan itu. Ruang-ruang pemerintahan sepertinya masih penuh sesak dengan virus itu.

Himbauan tak henti dikumandangkan dengan masih menggunakan narasi lama yang sama sebelumnya. Tapi masyarakat kebanyakan terlanjur menganggap virus itu telah terbenam. Bahkan Kapolri telah mencabut maklumat pelarangan yang pernah dikeluarkan.

Masih sesaknya pikiran pemerintahan dengan virus itu nampak dari narasi-narasi Gugus Tugas Covid-19 di semua jenjang. Pemerintah membatasi mobilitasnya sedemikian rupa di tengah warga tak lagi risau akan hal itu.

Kebijakan bantuan masih saja terus berlanjut bahkan hingga Desember mendatang. Apakah itu efektif dan benar-benar bertujuan membantu warga terdampak? Ataukah itu tinggallah narasi-narasi yang dibangun untuk motivasi tertentu?

Yang pasti, di tengah warga kebanyakan telah mencari sendiri kebutuhan sehari-harinya, keuangan negara di pusat dan daerah masih terus mengalir dalam paket-paket sembako dengan nilai yang pantastis.

Adakah ini bentuk aji mumpung. Hanya mereka yang tahu…….(Redaksi).

35b24349cfd79c2fca67650b87d971df

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Tingkatkan Kemampuan Anggota, Sat Brimob Polda Banten Gelar Pelatihan Program Quick Wins 1 Tahun 2020

Wed Jul 8 , 2020
Kliknusantara.Com [KOTA SERANG] – Untuk mensupport Program Quick Wins 1 triwulan III tahun 2020, sebanyak 33 personil Sat Brimob Polda Banten mengikuti upacara pembukaan Pelatihan dan Penegakan Hukum Bagi Organisasi Radikal dan Anti Pancasila di pemukiman padat penduduk yang bertempat di Lapangan Mako Satbrimob Polda Banten, Rabu (08/07/2020) pukul 07.00 […]