Hari Bhayangkara

Dua Perkara yang Membahayakan Manusia: Kebodohan dan Kemiskinan

$rows[judul]

Oleh: Syahrul E. Dasopang (Pemerhati dan Pengamat Budaya Melayu Nusantara) 

KEBODOHAN dan kemiskinan merupakan sasaran pemberantasan dari Islam. Terhadap problem kebodohan, seorang pemeluk Islam diwajibkan menuntut Ilmu dan mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang terkandung dalam Alquran maupun ayat-ayat kauniyyat. Terhadap problem kemiskinan, ajaran Islam begitu sistematis dan organik untuk memberantasnya, melalui serangkaian ajaran sedekah wajib (zakat) maupun sedekah sunnah dengan berbagai variannya itu, seperti wakaf, infaq, hibah, hadiah, sedekah dan lain-lain.

Sebab disadari bahwa dua perkara ini merupakan ranjau yang berbahaya bagi lahirnya krisis iman, kekufuran dan tumbuhnya tirani yang merusak dan memperdaya, baik dengan menipu kesadaran manusia maupun memperbudak manusia karena ketidakberdayaan menghadapi angkara murka.

Sebagaimana kita tahu, kalau bodoh, mudah ditipu. Kalau miskin, mudah diperbudak dan ditindas. Kalau sudah bodoh dan miskin pula, lengkaplah akibat yang akan ditanggung. Ditipu, ditindas dan diperbudak. Ditipu karena bodoh itu, ketika kita tidak sadar bahwa orang lain mengeksploitasi kita. Sementara diperbudak karena miskin, kita sadar dieksploitasi orang, tapi kita tidak berdaya melawannya dan terpaksa tinduk karena kita lemah akibat kemiskinan.

Itulah sebabnya dua hal ini merupakan salah satu dari tujuan diturunkannya wahyu kepada Nabi. Agar seseorang lepas dari penipuan dan perbudakan oleh manusia atas manusia, baik yang sudah permanen maupun yang tengah dibina. Karena Islam memberikan kesempatan pada setiap orang untuk berhak memverifikasi kebenaran berdasarkan akal dan tidak ada satu pun yang memiliki otoritas atas transmisi wahyu setelah Nabi.

Memiliki ilmu itu hasilnya mencerahkan batin, memberikan solusi, menyajikan kemudahan dan memerdekakan akal karena tersingkapnya hakikat dan tersedianya pilihan-pilihan yang dapat diambil untuk keluar dari masalah. Pendeknya, ilmu itu untuk memecahkan dan mengatasi masalah. Kalau ada ilmu yang bukan berfungsi memecahkan dan mengatasi masalah, barangkali itu hanyalah dogma yang diturunkan dari orang per orang. Dogma hanya merumitkan dan mengawetkan masalah saja sehingga akibat yang ditimbulkan dari dogma tersebut kehidupan menjadi mandeg dan menyusut ke belakang. Akibatnya timbullah hirarki sosial dalam transmisi dogma-dogma tersebut, yang sebenarnya merupakan modus dari akitivitas pemusatan kekuasaan. Hal ini tampak pada modus penyebaran pengetahuan ruhani dan ilmu-ilmu tradisional yang validasi dan verifikasinya mengandalkan subjektivisme bukan objektivisme yang jika ditinjau dari sifat ilmu yang dipaparkan di awal bahwa itu hanyalah klaim ilmu semata dan sebenarnya hanya sebentuk dogma. Tetapi orang salah kaprah mendefinisikannya dengan mengatakan hal tersebut dengan ilmu.

Dihubungkan dengan sifat perkembangan masyarakat Indonesia yang suka mendewakan tradisi, tampaknya terkait dengan pengertian mereka terhadap definisi ilmu. Mereka tidak membedakan antara ilmu dengan dogma. Dogma merawat stagnasi dan sedangkan ilmu mengakibatkan perubahan. Dalam praktiknya yang kerap dimaksudkan istilah "menuntut ilmu" sama sekali tidak dibedakan antara menuntut diturunkannya informasi-informasi dogmatis dari seorang dengan menuntut dibukanya pengetahuan-pengetahuan yang mencerahkan batin, memberi jalan keluar dan membebaskan seseorang untuk mengatasi problem kehidupan yang senantiasa dinamis, kompleks dan variatif. Harusnya yang kedua inilah yang didefinisikan oleh masyarakat tentang ilmu, bukan yang pertama. Bila yang pertama, tidak selalu siap untuk divalidasi dan digugat keabsahannya, serta kerap mempertahankan diri dengan menebarkan ketakutan terhadap bid'ah, sedangkan yang kedua secara organik justru menuntut kritik, penyelidikan ulang atas basis epistemologisnya dan perayaan atas penemuan baru (bid'ah), baik di tingkat teoritik maupun pengembangannya. Tapi bagaimana pun, permasalahan yang diajukan dalam tulisan ini, tetap perlu diperdebatkan. Karena selalu kita bergelayut antara semacam pembelaan moral atas tradisi dan kebutuhan yang tidak terelakkan terhadap kebaruan. Dan problem ini, telah mempolarisasi kebudayaan, paham dan pengorganisasian sosial politik.. 

~ SED

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)