Idul Adha 1445 h 2024

Bahas Kemajuan 6.0, Prof. Mansyur Ramli: Etika Benteng Terakhir Redam Ganasnya Teknologi AI

$rows[judul] Keterangan Gambar : Prof. Dr. H. Mansyur Ramli, SE., MSi., Ketua Pembina Yayasan To Ciung Luwu, Sulawesi Selatan

PALOPO, KLIKNUSANTARA.COM| Etika menjadi Benteng terakhir rem ganasnya kemajuan teknologi Artificial Inetelegence (AI) yang saat ini telah mamasuki level 6.0. Kira-kira seperti itulah penggambaran situasi kemajuan teknologi AI yang saat ini tengah melanda dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang disampaikan Prof. H. Mansyur Ramli, SE., MSi., di hadapan ratusan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, Sabtu (20/4/24). 


Pada kuliah umum yang diselenggarakan Pascasarjana Unanda itu, Prof. Mansyur Ramli dipandu moderator Dr. Kasmad Kamal, SIP, MSi., yang merupakan Direktur Pascasarjana Unanda, membahas pendidikan dan iptek dalam era 6.0 dengan Tema: 'Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Peluang dan Tantangan di Era Industri 6.0'.

Dalam pemaparannya, Prof. Mansyur Ramli mengungkapkan jika saat ini kemajuan teknologi berbasis Artificial Inetelegence, tak dapat dibendung dan terus mengalami kemajuan meski harus membentur norma keagamaan. Kemajuan teknologi saat ini sebutnya membawa perubahan terutama dalam bentuk kemudahan teknis kehidupan. 

Segala kebutuhan yang tadinya mustahil dengan mudah dapat dihadirkan melalui pemanfaatan teknologi artificial Inetelegence. Kemudahan teknis yang dapat diraih manusia dengan bantuan AI, begitu nyata, hadir dan bahkan bisa menggeser peran-peran manusia dalam banyak hal di kehidupan nyata. 

Tidak hanya robotik yang bisa melakukan fungsi manusia, kata dia. Bahkan untuk memudahkan manusia sesungguhnya, dihadirkan manusia virtual yang beraktivitas layaknya manusia nyata, dan hasilnya juga nyata. 

"Apa saja yang dibutuhkan, di dunia pendidikan misalnya, saat ini begitu mudah kita membuat proposal, bahan presentasi kuliah yang lebih bagus dalam hitungan menit, dengan bantuan ChatGPt yang berbasis Artificial Inetelegence," tandasnya. 

Lebih jauh dikatakan, "bukan hanya sebatas aspek teknis kehidupan, bahkan manusia yang sesungguhnya pun dapat digandakan melalui virtual clone". 

Mengenai kemajuan yang luar biasa tersebut, terutama dalam hal 'penciptaan manusi virtual', jelas kemajuan teknologi itu sangat kontroversial. Sebab dengan upaya menggandakan manusia melalui VC tersebut, dianggap mengintervensi kewenangan Tuhan yang diyakini sebagai pencipta manusia dan segalanya. 

"Bahkan ada pihak yang telah mengklaim jika mereka lebih unggul dari Tuhan. Alasannya Tuhan menciptakan manusia dari tidak tahu apa-apa awalnya, sementara mereka dapat 'menciptakan' manusia sudah lengkap dengan pengetahuan sejak awal," ungkpnya mengutip. 

Dari sisi ini, terang Guru Besar Universitas Muslim Indonesia itu, jelas terjadi pertentangan. Dimana para ahli teknologi AI telah melampaui garis ketentuan menurut dogma agama terutama Agama Samawi yang menyatakan hal itu adalah ranah etik ketuhanan. 

Dikatakan Prof. Mansyur Ramli, meski kemajuan teknologi AI hampir merambah segalanya, namun nampaknya benteng etika masih cukup kuat membendung ambisi kemajuan teknologi tersebut.

Menjawab akan tergilasnya keyakinan agama terkait eksistensi ketuhana dalam aspek AI itu, Prof. Mansyur Ramli mengatakan itu adalah bentuk ke pongahan belaka. Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan itu amatlah menguntungkan walaupun sisi lainnya berbahaya.

"Teknologi itu seperti pisau bermata dua, satu sisi untuk kebaikan, sisi lainnya dapat diselewengkan untuk kejahatan," Terangnya. 

Mengutip sebuah referensi di Jepang ungkap Profesor ini, di negeri sakira tersebut dikembangkan society culture, yang menurutnya membendung kemajuan AI sekaligus bentuk kompromi yang tak dapat menafikan kemajuan teknologi.

"Jepang ingin mengatakan, oke segalanya boleh teknologi, tapi kami tetap antri (budaya antri-red)," ungkap Ketua Pembina Yayasan To Ciung Luwu ini. 

Dalam pandangan Profesor Mansyur, kemajuan teknologi betul-betul meneguhkan individualisme, dimana kehadirannya berdampak merendahkan nilai kemanusiaan (dehumanisasi). 

Dampak negatif ini jelas membawa kekacauan jika tidak disikapi dengan perubahan pola kebiasaan. Juga melahirkan penyakit alienasi, keterasingan manusia.

Menyikapi hal itu, secara bijak tokoh pemikir Islam ini, menyarankan agar manusia harus mampu mengendalikan teknolog, bulan dikendalikan teknologi itu sendiri. Ia memaparkan berbagai strategi untuk dapat unggul menghadapi kemajuan teknologi di era Industri 6.0.

Tokoh Intelektual Sulawesi Selatan itu mengingatkan jika saat ini memang etika kemanusiaan berbasis Agama masih bisa membendung isu kemanusiaan dalam teknologi AI, tapi itu sebatas dalam aspek penerapannya saja. 

"Mereka hanya berhenti dalam aspek aplikasinya, karena faktor etika yang masih ada dan mendapat penolakan dari semua agama. Tapi perkembangannya tak pernah berhenti karena terus mengalami kemajuan," tuturnya. 

Sang Profesor menolak paham kebablasan dari para pegiat AI yang disebutnya kepongahan dengan kemajuan penemuan teknologinya. Karena menurut dia, sejatinya teknologi bagaimanapun ia masih karya manusia. Oleh karena itu, PR besarnya adalah bagaimana meninggikan nilai kemanusiaan sebagai mahluk Allah Swt untuk tidak direndahkan.... (Mrf). 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)